Wednesday, February 3, 2010

Misteri Kematian Napoleon Bonaparte..

haloooo bloggiiiee.. kangen juga udah lama banget ga nulis.. padahal udah kepengen nulis nih, kemarin2 nna baru dateng ke acara pernikahan.. tapi belum sempet nulis reviewnya uy.. Nna mau nulis tugas Nna aja deh. hehehe. jadi Nna dikasih tugas sama dosen buat bikin resume tentang Kematian Napoleon Bonaparte. nama kuliahnya : Kimia dan Masyarakat. jadi pas kuliah bakal ada pembicara, seminar dan sebagainya. abis itu kita bikin resumenya deh.. tapi banyak ketentuannya uy.. ^_^ jumat kemarin karena pertemuan pertama jadinya kita nonton film terus kudu diresume.. dan inilah tugas pertama Nna.. ^_^

Misteri Kematian Napoleon Bonaparte

Napoleon Bonaparte, nama yang begitu populer di Eropa pada awal abad ke-18. Napoleon merupakan tokoh terkenal karena ia berhasil menguasai hampir seluruh dataran Eropa baik dengan diplomasi maupun peperangan. Kaisar Perancis itu meninggal dunia pada tanggal 5 Mei 1821 di tempat pengasingannya, Santa Helena. Kematian Napoleon Bonaparte menjadi misteri karena gejala penyakitnya yang aneh dan mengerikan. Hasil otopsi yang dipimpin oleh dokter Francesco Antommarchi menyebutkan bahwa Napoleon Bonaparte meninggal dunia karena kanker perut.
Pengawal setia Napoleon pada saat itu, Louis Marchand menulis kehidupan pribadinya selama mengabdi pada Napoleon. Marchand menulis jurnal untuk putrinya, Malvina dan tidak ditujukan untuk dipublikasikan. Meskipun pada akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya, jurnal Marchand dipublikasikan pada publik.
Pada tahun 1955, Sten Forshufvud, seorang dokter gigi dari Swedia yang merupakan pengagum Napoleon tidak beranggapan bahwa Napoleon meninggal karena kanker perut. Forshufvud membaca catatan harian Marchand dan dia beranggapan tak ada gejala kanker pada Napoleon. Menurut catatan harian Marchand, keadaan Napoleon sangat menyedihkan. Kakinya bengkak sehingga ia sukar berjalan. Selain itu, Napoleon sering kali mengeluhkan pusing-pusing, hilang nafsu makan, muntah-muntah, gatal-gatal, dan sakit dada. Apabila Napoleon benar-benar menderita kanker, tubuhnya semakin hari akan semakin kurus. Sementara itu, pada catatan harian Marchand tertulis bahwa Napoleon semakin hari semakin gemuk. Dari hal tersebut, Forshufvud menyimpulkan bahwa kematian Napoleon tidak disebabkan oleh kanker dan Forshufvud beranggapan ada unsur kejahatan dalam hal ini. Forshuvfud menyimpulkan bahwa Napoleon meninggal dunia karena dibunuh, diracuni oleh arsen
Secara kimiawi, arsen memiliki karakteristik yang serupa dengan fosfor. Arsen dapat digunakan sebagai pengganti dalam berbagai reaksi biokimia dan bersifat racun. Dalam kehidupan sehari-hari, arsen biasa digunakan sebagai pestisida, herbisida, dan insektisida. Keracunan arsen menyebabkan 30 gejala yang berbeda. Forshfvud mencocokkan kondisi Napoleon menjelang kematiannya dengan gejala keracunan arsen. Tak disangka, gejala yang dialami Napoleon persis dengan gejala keracunan arsen. Dugaan Forshfvud semakin kuat ketika kuburan Napoleon dipindahkan dari Santa Helena ke Perancis. Kondisi mayat Napoleon tidak rusak dan masih utuh meskipun Napoleon tidak menggunakan pentelah terkubur lebih dari 10 tahun. Kandungan arsen yang cukup tinggi dalam tubuh Napoleon dapat mengawetkan jaringan.

Pada tahun 1960-an, Dr. Hamilton Smith menemukan cara mendeteksi arsen dalam sampel rambut dengan teknik NAA (Neutron Activation Analysis). Penemuan tersebut dimuat pada Journal Analytical Chemistry. Kemudian, Forshfvud bekerja sama dengan Smith untuk menganalisis kandungan arsen dalam rambut Napoleon. Analisis tersebut dilakukan di Harwell Nuclear Research Laboratory of London. Rambut Napoleon dipotong-potong per 5mm. Tiap 5 mm mengambarkan 15 hari kehidupan Napoleon. Hasil analisis mengungkapkan bahwa Napoleon telah diracuni arsen sebanyak 40 kali. Kandungan arsen dalam sampel rambut sekitar 30 kali kadar arsen normal.
Sampai sekarang kematian Napoleon masih menjadi misteri. Apakah Napoleon meninggal dunia karena diracun secara sengaja? Jika benar, siapakah pembunuhnya? Hal ini tak dapat dibuktikan secara pasti karena tidak adanya bukti-bukti langsung. Namun, hal yang menarik di sini adalah semangat juang yang tinggi dari Forshfvud. Sifatnya yang selalu ingin tahu, memiliki obsesi yang besar terhadap suatu masalah, tidak kenal lelah, tangguh, bekerja keras dan pantang menyerah. Sifat-sifat tersebut sangat patut dicontoh oleh para peneliti, khususnya oleh calon peneliti muda. Menurut saya, Forshfvud adalah seorang real scientist dan real scientist-lah yang akan mengungkap kebenaran.

No comments:

Post a Comment

Any comments? :)

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik